Cara mengembalikan pelanggan yang berhenti membeli, dan apa yang harus ditulis untuknya. Kenapa mengembalikan pelanggan lama lebih murah daripada menarik yang baru, rantai 3 sentuhan, dan template pesan siap pakai.
Lihat daftar pelanggan Anda. Kemungkinan besar, yang beli itu-itu saja — sebagian kecil — sementara sisanya diam: pesan sekali lalu menghilang. Gampang menganggap mereka hilang, tapi itu keliru. Itu pendapatan yang sudah Anda miliki — tinggal dikembalikan saja.
Mari bahas siapa yang bisa disebut pelanggan tidak aktif, kenapa mengembalikan mereka yang sudah pernah beli lebih menguntungkan daripada menarik orang baru, apa yang harus ditulis, dan cara membangunkan daftar yang "tidur" tanpa terkesan memaksa.
Pelanggan tidak aktif bukan berarti hilang
Pelanggan tidak aktif adalah orang yang dulu membeli, lalu berhenti dan tidak merespons selama berbulan-bulan. Tidak ada batas waktu yang universal: di kedai kopi, "sudah lama" berarti sebulan; di toko furnitur, berarti setahun. Patokan praktis untuk kebanyakan bisnis: kalau pelanggan tidak membeli dan tidak merespons selama 3-9 bulan, dia sudah "dingin".
Dingin bukan berarti pergi selamanya. Dia pernah memilih Anda, puas atau setidaknya tidak kecewa, dan Anda sudah punya kontaknya. Ini yang membedakannya sepenuhnya dari orang asing yang datang dari iklan: tidak perlu membangun kepercayaan dari nol, cukup ingatkan dia dengan alasan yang bagus.
Langkah pertama: lihat orang-orang ini di daftar Anda dan pahami bahwa mereka berbeda-beda. Pelanggan yang sekadar sudah lama tidak muncul itu beda dengan yang menanyakan harga lalu menghilang, atau pindah ke kompetitor. Mulai dari yang sudah pernah ada kontak jelas dengannya:
- pernah beli, tapi berhenti;
- pernah tanya-tanya atau menanyakan harga, tapi tidak jadi beli;
- pindah ke penyedia lain dan mungkin kurang puas;
- pernah minta sendiri untuk dihubungi belakangan;
- menolak karena alasan yang mungkin sudah berubah: harga, waktu, pilihan produk.
Setiap kelompok perlu disapa dengan cara berbeda, makanya satu pesan massal untuk semua orang tidak akan mengena ke siapa pun. Mulai dari segmen paling "hangat", yang sudah pernah ada percakapan — biasanya itu yang paling cepat kembali.
Kenapa mengembalikan lebih murah daripada menarik baru
Menarik pelanggan baru butuh biaya di setiap langkah: iklan supaya dikenal, waktu dan diskon supaya mereka mau memutuskan untuk pertama kalinya. Dengan pelanggan yang tidak aktif, jalan itu sudah dilalui dan sudah dibayar sekali.
Kembali juga lebih mudah secara psikologis. Meskipun orangnya lupa detail atau nama yang melayani, nama perusahaan atau urusannya sendiri masih terasa familiar, jadi pesan susulan tidak perlu mulai dari nol menjelaskan siapa Anda dan kenapa menghubungi. Penolakannya lebih kecil, artinya Anda juga lebih sering dapat respons dibanding kontak dingin pertama kali.
Angka-angka mendukung ini. Berdasarkan riset yang banyak dikutip Harvard Business Review, mempertahankan atau mengembalikan pelanggan rata-rata 5-25 kali lebih murah dibanding menarik yang baru. Dan kenaikan retensi hanya 5% saja bisa mendongkrak keuntungan 25-95%, karena pelanggan yang kembali lebih siap dan lebih sering membeli dibanding orang yang baru pertama kali melihat Anda.
Untuk bisnis kecil, kesimpulannya sederhana: sebelum menambah biaya iklan baru, bangunkan dulu yang sudah pernah beli. Mengembalikan pelanggan yang pergi adalah bagian paling diremehkan dari retensi pelanggan: Anda memanfaatkan aset yang sudah ada tapi menganggur, bukan membeli yang baru.
Cara membangunkan daftar pelanggan: rantai tiga sentuhan
Satu pesan "kami kangen" saja hampir tidak berpengaruh. Mengembalikan pelanggan itu rantai pendek berisi dua-tiga sentuhan dengan jeda beberapa hari, di mana tiap pesan berikutnya memperkuat yang sebelumnya. Berdasarkan riset marketing, rantai yang disusun dengan baik bisa mengembalikan 15-25% pelanggan tidak aktif, sementara pengingat sekali saja hampir tidak menghasilkan respons.
Sentuhan pertama: pengingat yang berguna. Bukan jualan langsung, tapi alasan: ada sesuatu yang baru, syaratnya berubah, ada layanan yang cocok untuknya. Tujuannya cuma untuk kembali muncul di radarnya, dengan halus.
«Kak Andi, sekarang kami sudah bisa antar ke daerah Anda dalam 2 jam. Dulu belum ada opsi ini, makanya saya kabari: sekarang pesan jadi lebih gampang.»
Sentuhan kedua: keuntungan personal dengan batas waktu. Kalau setelah pesan pertama orangnya belum merespons, beri alasan konkret untuk kembali sekarang juga. Kode promo khusus untuk yang sudah lama tidak beli, dengan batas waktu: tanpa deadline, pesan itu akan terus ditunda selamanya.
«Saya simpankan diskon 15% untuk pesanan berikutnya. Berlaku sampai hari Minggu, setelah itu hangus. Kode promo SALE5.»
Sentuhan ketiga: "kami masih ingat Anda". Upaya terakhir, yang paling personal. Kaitkan dengan pembelian sebelumnya dan tunjukkan bahwa Anda ingat pelanggan itu, bukan sekadar kirim pesan yang sama ke semua orang.
«Setahun lalu Anda ganti oli motor di sini. Sebentar lagi waktunya ganti lagi, mau saya siapkan jadwalnya?»
Kalau orangnya tetap tidak merespons setelah sentuhan ketiga, berhenti. Setelah itu namanya sudah memaksa, dan bisa berujung pada berhenti berlangganan dan komplain. Ada baiknya setiap pesan menyertakan cara untuk berhenti menerima: satu baris («Kalau tidak ingin menerima pesan seperti ini lagi, balas "STOP"») sudah cukup mengurangi komplain dengan sendirinya.
Kenapa pakai messenger, bukan email
Reaktivasi bisa juga lewat email, tapi email tenggelam di folder "Promosi" dan sering tidak terbaca. Pesan di messenger sampai ke tempat yang sama di mana orang membaca chat dengan orang-orang terdekatnya, dan hampir selalu dibuka.
Untuk mengembalikan pelanggan, ini krusial: rantai sentuhan hanya berhasil kalau pesannya sampai dan terlihat. Makanya lebih efektif membangunkan daftar yang tidur lewat WhatsApp atau Telegram, daripada berharap pelanggan membuka emailnya.
Kesalahan yang sering terjadi
- Diskon untuk semua orang sekaligus. Pesan massal "-20% untuk semua" menurunkan nilai produk dan memberi diskon ke orang yang sebenarnya akan tetap beli tanpa diskon. Tawaran yang tepat sasaran untuk pelanggan tidak aktif bekerja lebih baik dan lebih murah.
- Pesan tanpa alasan. «Sudah lama tidak terlihat, ayo kembali» tidak memberi apa-apa ke pelanggan. Perlu alasan untuk menghubungi sekarang juga: hal baru, keuntungan, perhatian.
- Satu sentuhan saja, bukan rantai. Kirim sekali, tidak ada respons, lalu lupa. Pengembalian pelanggan hampir selalu terjadi di pesan kedua atau ketiga, bukan yang pertama.
- Pesan massal yang sama untuk semua daftar. Pelanggan aktif dan yang tidak aktif butuh kata-kata yang berbeda. Tanpa segmentasi, pesannya tidak mengena ke keduanya.
Cara mengetahui reaktivasi berhasil
Mengembalikan pelanggan itu mudah diukur, dan sebaiknya memang diukur, bukan ditebak-tebak. Perhatikan dua indikator. Pertama: persentase yang kembali, yaitu berapa banyak dari yang Anda hubungi yang merespons atau melakukan pemesanan. Kedua: pembelian berulang setelah kembali. Patokan yang bagus adalah kalau lebih dari 40% yang kembali membeli lagi dalam tiga bulan.
Kalau orangnya kembali, beli sekali, lalu menghilang lagi, masalahnya bukan lagi di pesannya, tapi di produk atau layanannya — itu urusan lain. Tapi kalau yang kembali terus membeli berulang, berarti daftar pelanggan Anda berfungsi sebagai kanal penjualan, dan rantainya bisa dengan yakin diperluas ke segmen berikutnya.
Cara melakukannya di WSENDER
Pertama, pisahkan pelanggan tidak aktif dari yang lain. Segmentasi di WSENDER memungkinkan Anda memilih yang sudah lama tidak beli, dan fokus bekerja hanya dengan mereka, bukan mengirim reaktivasi ke seluruh daftar.
Selanjutnya, susun rantai sentuhannya. Personalisasi otomatis mengisi nama dan detail di setiap pesan, supaya "kami masih ingat Anda" terdengar seperti kenyataan, bukan template.
Anda bisa coba ini tanpa biaya sama sekali: paket gratis di WSENDER menyediakan 15 pesan per hari. Ambil sepuluh pelanggan tidak aktif, kirimkan sentuhan pertama, dan lihat berapa banyak yang kembali. Itulah pendapatan yang selama ini menganggur di daftar Anda.